Loading...

"KATASTROFI EKSPEKTASI" Cerpen Karya Valtya Farah Regina Mandaliko (XII MIPA 4)

  • Tuesday, 09 March 2021 09:00
  • Administrator

Ini lembaranku bersama untaian memori yang melekat walau waktu terus beranjak. Aku tidak tahu mau menyebutnya memori bahagia atau memori berisi duka. Untunglah bagian prefrontal pada lobus frontalis (Tempat otak menyimpan memori jangka panjang) yang ada dalam cerebrumku masih berfungsi dengan baik, sehingga ingatan itu masih hinggap dikepalaku. Ini adalah cerita tentang orang yang saling menjaga untuk mendapatkan impiannya.

Dipenuhi ambisi akan masa depan dan semangatnya yang membara. Renasya Keenanzilla, nama lengkapku. Seorang gadis yang kini berusia 17 tahun, namun sudah merencanakan masa depannya sejak masih belia. Memiliki sahabat sejak kecil yang satu frekuensi denganku. Raken Keyzaula, bocah lelaki yang berumur satu tahun diatasku tapi mempunyai mimpi yang lebih jauh dari jarak galaksi Bima Sakti ke galaksi Andromeda. Kami lahir ditanggal yang sama hanya selisih 1 tahun. Raken 27 Desember 2001 sedangkan aku 2002. Aku curiga, kami sudah bersahabat sejak dalam kandungan karena kedua orangtua kami pun sudah bersahabat sejak lama. Hingga saat ini, aku terus bersyukur karena Tuhan telah memberi kesempatan kepadaku untuk mendapatkan hari-hari penuh mimpi yang dilengkapi warna – warni indah, bersama sahabat baikku di masa kecil, Raken.

Semuanya masih baik – baik saja kala itu, aku masih bisa menampilkan senyum bahagia yang terukir indah di bibirku. Hingga suatu kejadian yang begitu menghancurkanku datang di hari bermakna yang aku tunggu – tunggu. Tepat di hari itu, banyak rasa yang tak dapat ku ungkap. Tertahan begitu saja dengan bibir yang terkatup rapat. Hingga penjelasan hanya muncul dari mataku yang sudah mulai sembap.

Aku sulit untuk menerima bahwa realita yang ada malah menghancurkan semua ekspektasi di masa depan yang telah ku buat. Dunia memang selucu itu, tidak dapat ditebak namun, selalu memberi harapan yang semerbak. Ditambah manusia yang tidak pernah puas akan dunia semakin memperlusuh kehidupannya.

Awal Desember, 2013

Sore itu, Ken bermain kerumahku. Kami duduk di kursi yang terbuat dari rotan sambil memandangi kolam air terjun buatan yang sederhana dan di huni oleh seekor kura-kura Brazil kesayanganku yang sudah berusia 730 hari. Di tengah kolam terdapat batu bulat berukuran cukup besar sekitar 50 cm sebagai tempat untuk kura- kura itu berjemur atau hanya sekadar muncul ke permukaan. Semilir angin yang sejuk menerpa wajahku ditemani golden hour indah di dekat kolam yang memantul hingga menyinari aku dan Ken. Sekeliling teras dipenuhi oleh hijaunya tumbuhan yang menyejukkan mata. Suara dari air terjun yang merasuk ke telinga dan menenangkan jiwa.

Saat situasi seperti ini aku dan Raken masih terhanyut dalam pikiran masing-masing hingga muncul satu pertanyaan yang melintas begitu saja di dalam benakku. Menghadapkan diri ke arah Raken yang masih memandangi golden hour di dekat kolam dan mulai bergelagat ingin bertanya serius.

“Ken saat kamu lulus SMP nanti kamu mau lanjut sekolah dimana?”

“Aku mau melanjutkan ke SMA Galaksi Ren, jurusan IPA seperti mama ku. Terus aku mau ikut olimpiade fisika juga. Lulus SMA aku ingin melanjutkan pendidikan ke Bristol University jurusan aerospace. Pokoknya aku akan belajar giat biar jadi astrounot hebat yang pertama kali pergi ke luar galaksi lain”

“Aamiin, pasti bisaaa!”

Banyak yang bilang bahwa mimpi ken dan aku terlampau sangat tinggi dibanding teman yang lainnya. Namun, aku malah tidak takut untuk bermimpi lebih tinggi lagi. Karena setiap mimpi pasti bisa digapai jika mau mengeluarkan usaha yang sepadan untuk mendapatkannya. Terkadang, ada beberapa orang yang hanya mau bermimpi tanpa berusaha untuk mewujudkannya. Tak jarang, hal itu pula yang membuat banyak orang takut untuk bermimpi.

27 Desember 2013

Pagi hari di umurku yang baru menginjak 10 tahun ini diawali dengan bersyukur. Kicauan burung – burung kecil yang bersautan di pohon dekat rumah, deburan air terjun kecil yang memekakkan telinga, dan kura – kura kecilku yang sudah menampakkan dirinya, seolah ingin menambah baik suasana hati di hari yang bermakna ini. Raken dan orang tuanya sudah menunggu di bawah, aku segera turun dari kamar menghampirinya seraya menebar senyum terbaikku. Kami semua akan pergi ke Floating Market di Lembang karena cuaca yang cukup cerah hari ini.

Begini lah Bandung, Ibu Kota Jawa Barat tempat aku dan Raken menetap. Suasana dingin yang menyejukkan dan terkadang berhasil menusuk hingga tulang. Hijaunya tumbuhan menghiasi sepanjang jalan yang kulewati sejak tadi.

Tibalah kami di tempat tujuan. Saat melangkahkan kaki kedalam, kami disambut oleh warna–warni bunga yang sedang bermekaran seolah mengundang setiap mata untuk terus menatapnya. Aku dan Raken segera menjelajahi Floating Market. Menukarkan uang pecahan Rp 20.000 dengan koin yang senilai. Kemudian, masuk ke tempat yang ditinggali banyak kelinci. Memberikan wortel segar kepada kelinci tersebut dan membelai lembut bulunya yang halus juga putih bersih seperti susu. kami juga menjelajahi rainbow garden dengan beragam bunga indah yang bermekaran didalamnya.

Tak terasa, matahari sudah mulai beranjak turun dari langit. Sang surya menampakkan sinarnya yang keemasan. Begitu indah namun menyorot mata siapa saja yang menatapnya. Kami memutuskan menyudahi wisata ini. Di perjalanan pulang, aku sibuk melihat kota Bandung dikegelapan malam dengan bintang yang berkilauan. Beragam pertanyaan mulai muncul, apakah masa depan akan sesuai dengan rencanaku? Jika tidak sesuai ekspektasiku, apa yang harus aku lakukan? Dan masih banyak pertanyaan di kepalaku ini. Aku dan Raken berbeda mobil saat perjalanan pulang. Penglihatan yang terbatas membuatku tidak bisa menemukan mobil yang Raken tumpangi. Aku tidak tahu kenapa rasa khawatir kini menjalar.

“Ma, ken mau kemana sih? I think there’s something wrong. It’s not to be usual”.

“Don’t worry honey, your prince with his parents and they will be fine”.

Setelah percakapan itu, aku membuang rasa khawatir yang mengganggu ini. Dan terhanyut oleh suasana Bandung di malam hari yang cukup ramai. Namun, tiba–tiba saja terdengar suara yang memekakkan gendang telinga. Sepertinya suara benda yang saling menghantam.. Keadaan di luar mobilku seketika menjadi ramai dan bising. Orang–orang di sekitar mobilku mulai berlari ke sumber suara. Papa segera pergi mengecek keadaan di luar dan menyuruhku tetap di mobil bersama mama. Pikiranku semakin kalut, berlarian tak tentu arah, dan tidak bisa aku genggam. Aku yakin hal yang tidak dapat dikendalikan telah terjadi. Melihat papa tak kunjung kembali, ragaku semakin ingin bergerak menghampiri. Aku turun perlahan dari mobil dan berlari kecil untuk menemukan kepastian di sana. Mama yang menyadari aku keluar tanpa permisi langsung pergi menyusul. Langkahku semakin cepat menghilangkan jarak dengan penyebab keramaian. Menerobos orang–orang yang berkerumun dengan tubuh mungilku.

Sampai di titik itu, duniaku seakan pudar. Kakiku terasa lemas, tak sanggup untuk menopang. Aku melihat mama ken menangis terisak. Papaku terus berusaha menghubungi semua yang bisa menyelamatkannya. Begitu Juga papa Ken, yang menggendong bocah lelaki berhidung mancung dengan rahang tegas. Namun, mata birunya tak lagi nampak. Iya, dia Raken Keyzaula, sahabatku sejak kecil dengan cita-cita menjadi astrounot yang pertama kali mendarat di galaksi lain setelah lulus dari Bristol University nanti.

Setetes air dari kelenjar lakrimalis pada fossa lakrimalisku jatuh tak terbendung. Mengundang tetesan lainnya untuk ikut turun. Aku diam tak bersuara dengan pikiran yang berkelana. Tak berani mendekat ke sana, takut menyadari semua ini adalah nyata. Namun, aku tidak sedang bermimpi. Mama langsung tanggap memelukku erat. Kenyataan ini begitu menamparku. Melihat sahabat terbaik harus mengalami kecelakaan di hari ulang tahun kami.

Sirine mobil ambulance mulai memecah keheningan jalan Kota Bandung. Dengan sigap petugas kesehatan mengamankan Raken dan memberi pertolongan pertama. Mobil ambulance itu segera meninggalkan tempat kejadian dan membawa Raken ke rumah sakit dengan lincah. Sementara itu, mobil Raken mengalami kerusakan yang berat di bagian belakang akibat tertabrak truk yang oleng. Setibanya di rumah sakit, Raken segera dibawa ke IGD. Aku tak henti–hentinya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Tante Winda dengan luka ringan ditangannya juga berdoa sambil terus menangis. Mamaku berusaha menenangkannya dengan menyodorkan sebotol air mineral. Sedangkan, papa dan om Ali, papanya Raken segera pergi ke bagian administrasi. Melihat kenyataan yang begitu menyakitkan dan tak terduga membuatku semakin resah akan masa depan yang tidak aku ketahui. Karena manusia hanya bisa berencana sebaik mungkin untuk memanfaatkan waktu di kehidupan yang tersisa.

Hari terus berganti, menyisakan kenangan pedih namun berarti. Raken mengalami koma akibat kecelakaan tersebut dan baru sadar setelah 56 hari terbaring di ranjang dengan tumpukkan kapuk. Kata dokter Raken mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ia koma dengan waktu yang cukup singkat. Ia koma dengan waktu yang cukup singkat kurang dari 2 bulan. Padahal kata dokter dengan luka seserius itu, biasanya pasien baru sadar setelah 3 atau 4 bulan bahkan lebih ada yang sampai mengalami amnesia ringan hingga berat. Aku percaya bahwa ini adalah kekuatan doa yang di dengar oleh Sang Pencipta.

Dan pada akhirnya aku kembali mendapat pelajaran baru bahwa rencana dan ekspektasi manusia bisa saja tidak sejalan dengan takdir yang di tetapkan semesta. Dan ketika itu terjadi, kuncinya adalah jalani dan berdoa. Menyakini bahwa takdir dari Yang Maha Kuasa adalah yang terbaik bagi diri ini. Hidup tidak semuanya mengenai impian dan ambisi dengan akhir yang sesuai ekspektasi. Namun, mengenai kesiapan dalam menjalani dan tindakan yang dipilih untuk melanjutkan arah hidup yang akan di lalui.